IPTEK | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Kamis, 13 Desember 2012

PARADE MILITER AKBAR DINASTI MING

Salah satu "efek berantai" yang timbul setelah parade militer itu adalah ekspedisi Zheng He (di Indonesia dikenal Cheng Ho) yang terakhir berhasil mencapai pesisir Laut Merah, selain telah berhasil membangun hubungan dagang dan diplomatik dengan negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, tetapi juga memuluskan perjalanan naik hajinya ke Mekkah.

Bagi negara-negara modern, parade militer adalah cara untuk memamerkan kekuatan negara, dan mempererat rasa persatuan rakyat, juga merupakan cara penting untuk memperluas pengaruh negara. Dalam sejarah Dinasti Ming, Kaisar Zhu Di juga pernah menggelar "parade militer akbar" yang sempat menggemparkan.

Berbicara tentang parade militer Dinasti Ming, maka mutlak harus membahas situasi internasional di masa awal didirikannya kekaisaran Dinasti Ming (1368-1644).

Dinasti Ming bangkit setelah menggulingkan Dinasti Yuan (1271-1368, satu dari dinasti non Suku Han, Dinasti ini didirikan oleh Kubilai Khan, cucu dari Jenghiz Khan yang mendirikan kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia), namun tiga dari "empat negara Khan" yang didirikan oleh Jenghiz Khan masih eksis.

Pada tahun 1369, Zhu Yuanzhang mengerahkan pasukan 400.000 personel yang terbagi menjadi tiga jalur bergerak ke utara, dan memukul sisa Kerajaan Yuan hingga mundur ke utara dan kembali menjadi "suku nomaden", tapi setelah itu para mantan pejabat Dinasti Yuan dari Suku Mongol dan Suku Hui mulai memprovokasi negara-negara Asia Tengah dan Asia Barat tempat mereka diasingkan untuk bersikap bermusuhan dengan Dinasti Ming.

Tahun 1370, seorang bangsawan negara Chagatai Khan Barat bernama Tamer melakukan kudeta menggulingkan Kerajaan Chagatai Khan dan mendirikan negara Kekaisaran Timurid yang tersohor. Setelah mengalahkan Ottoman di Turki, Tamer pun segera mempersiapkan diri untuk menaklukkan Tiongkok nun jauh di sana, dengan mengutus mata-mata untuk bergerak di Beijing.

Saat menjamu tamu utusan kehormatan dari Mesir, ia melecehkan utusan Tiongkok bernama Guo Ji di depan umum, yang telah ditahannya selama 8 tahun. Kemudian ia juga menggelar "Kongres Mongol" di Samarkhan dan mengibarkan panji "menggulingkan Ming dan memulihkan Yuan". Namun sebuah tim kontra utusan dari Suku Tartar dan Wala dari internal Mongol sendiri dikirim ke Nanjing untuk melaporkan hal tersebut.

Tahun 1412, Tamer mempersiapkan invasi besar-besaran ke wilayah Asia Timur dengan 200.000 pasukan, dan pada waktu itu Kaisar Ming telah menanti dengan siaga penuh di Hexi dan Hami (wilayah perbatasan barat Tiongkok). Tak lama kemudian, Tamer wafat dalam perjalanan menaklukkan Timur, sebuah perang besar sirna begitu saja. Setelah itu, para pangeran keturunan Tamer saling berebut tahta, sehingga terjadilah perang saudara.

Sementara di Dinasti Ming, setelah Kaisar Zhu Di naik tahta, selain mengutus Zheng He (di Indonesia lebih dikenal dengan Cheng Ho) berlayar ke samudera barat untuk mengibarkan kewibawaan negara, juga mengutus Chen Cheng ke dataran barat, Kerajaan Timurid yang kemudian dipimpin oleh Shahalu melupakan kebijakan menentang Tiongkok dan menunjukkan sikap baik untuk mengambil hati Dinasti Ming, serta mengembalikan hubungan "wilayah kedaulatan" dengan Dinasti Ming seperti di zaman Zhu Yuanzhang. Tapi "kekuatan anti-Tiongkok" di negara-negara Asia Tengah waktu itu masih tetap eksis.

Di sisi lain, sebelum tahun 1420 Zheng He telah 5 kali berlayar ke samudera Barat, tapi setiap kali selalu kembali setelah mencapai Samudera Hindia, karena Kerajaan Mamluks di Mesir telah mengendalikan wilayah perairan Laut Merah dan melarang semua kapal dari Timur untuk berlayar memasuki wilayah tersebut. Setelah itu negara-negara Asia Tengah dan Asia Barat mulai mengakui secara sah Dinasti Ming sebagai "kerajaan langit" yang meneruskan Dinasti Yuan.

Namun negara-negara tersebut juga masih meragukan kemampuan Kaisar Ming, oleh karena itu dipilihlah kesempatan yang tepat untuk memamerkan kekuatan Dinasti Ming dan mengukuhkan "hubungan persembahan upeti" Dinasti Ming dengan negara-negara Asia Tengah dan Asia Barat, sehingga terkesan sangat penting. Dan parade militer, adalah kesempatan terbaik untuk itu.

Tahun 1418, dengan mengirim Chen Cheng sebagai utusan Dinasti Ming ke Asia Tengah, kemudian negara-negara Asia Tengah dan Asia Barat pun mengirim utusan masing-masing sebagai kunjungan balasan. Di bulan ke-7 tahun 1420, rombongan utusan sebanyak 600 orang yang terdiri dari 20 negara Asia Tengah dan Asia Barat tiba di Jiayuguan.

Kaisar Zhu Di mengutus 6.000 personel pasukan elite berkuda untuk mengawal rombongan tersebut, sepanjang jalan rombongan disuguhi "pemandangan" perkampungan militer Dinasti Ming di Jiubian.

Di setiap perkampungan militer, Dinasti Ming sengaja mengutus para perwira militernya yang merupakan orang Suku Mongolia dan Suku Hui untuk menjamu para tamu. Cara ini memperkenalkan kepada para rombongan tamu kebijakan kesetaraan antar suku bangsa yang diterapkan oleh Dinasti Ming, sehingga rumor yang mengatakan "Dinasti Ming menyiksa orang-orang Suku Mongolia dan Suku Hui" pun lenyap begitu saja. Dan kekuatan militer di "Jiubian" Dinasti Ming dengan sendirinya meninggalkan kesan yang mendalam di dalam benak para utusan negara tersebut.

Tanggal 20 bulan ke-11 tahun 1420, Zhu Di menerima para tamu di istana negara di Beijing, semua utusan memberikan penghormatan dengan berlutut, hanya utusan dari Kerajaan Timurid memberikan hormat dengan membungkukkan badan dengan alasan "di negaranya tidak ada kebiasaan berlutut seperti itu", dan Kaisar Zhu Di sama sekali tidak tersinggung.

Kali ini ketua rombongan utusan Timurid adalah Perdana Menteri Timurid sendiri yakni Aldusha, sementara wakil utusan adalah seorang jendral yang pernah mengabdi pada Tamer yang juga tidak perlu bersujud di negara itu. Setelah upacara penyambutan diplomatik, Zhu Di mengatur kegiatan bagi para utusan berwisata ke Provinsi Shandong, Henan, Jiangsu, untuk melihat-lihat peninggalan bersejarah, dan melihat sendiri kemakmuran di kota-kota di Tiongkok.

Dua bulan kemudian, para utusan menerima pemberitahuan bahwa Zhu Di akan mengadakan kegiatan "berburu" berskala besar di sekitar Beijing dan mengundang para utusan untuk menghadirinya. Bulan ketiga tahun 1421, perburuan di sekitar Beijing pun resmi dimulai, dengan mengerahkan pasukan sebanyak 100.000 personel, Zhu Di memilih dengan seksama pasukan khusus Dinasti Ming termasuk pasukan "5 Barak", "3000 kemp", serta "kemp Senjata Sakti" yang dengan terlatih memamerkan bagaimana pasukan Ming melakukan pengepungan, serangan serdadu infantri, serangan gabungan pasukan berkuda dan lain-lain.

"Pasukan Serigala Lokal" yang didatangkan dari Guangxi, Yunnan, Sichuan, Pasukan Pasak Putih memamerkan kemampuan memanah dan juga latihan menggunakan tombak serta berbagai atraksi militer lainnya.

Menurut catatan sejarah, pasukan Ming sangat rapi dan tertib, berdisiplin, berseragam indah, semua itu memukau para utusan negara tetangga. Terutama "kemp Senjata Sakti" Dinasti Ming yang memamerkan latihan penggunaan senjata api primitif seperti meriam, senapan (pasukan berkuda khusus menggunakan senapan), senjata panggul, meriam roket, mesin pelontar api dan berbagai senjata "berteknologi tinggi" lainnya, mata para utusan pun terbuka karenanya. "Perburuan" berskala besar itu berlangsung selama sebulan penuh. Setelah parade militer tersebut selesai, Zhu Di menerima para utusan di kemp utama.

Kali ini utusan dari Timurid pun bersujud, sampai-sampai kepalanya menyentuh tanah, dan tidak peduli lagi pada "di negara kami tidak ada tradisi seperti itu". Utusan Timurid bahkan menyatakan, kuda pilihan persembahan Timurid kali ini adalah kuda pusaka yang dulu ditunggangi oleh ayah Raja Tamer saat berperang ke berbagai penjuru, diberikan kepada Kaisar Zhu Di sebagai pernyataan penghormatan tertinggi.

Kaisar Zhu Di pun menulis surat dan disampaikan oleh utusannya kepada Raja Timurid, di dalam surat itu dinyatakan "semoga rakyat dan pejabat kedua negara dapat hidup berdampingan dalam damai dan kebahagiaan".

Parade militer yang dibuat heboh tersebut memang berhasil menuai efek yang sangat baik. Utusan negara yang "menyaksikan upacara" tersebut mencapai 27 negara. Kewibawaan dan kekuatan militer Dinasti Ming serta kebijakan negara yang bersahabat dan cinta damai telah menarik simpati luar biasa dari berbagai negara. Diantaranya hubungan baik antara Tiongkok dengan negara Asia Tengah dan Asia Barat terus berlanjut hingga akhir Dinasti Ming, untuk negara Timurid saja, telah mengirim utusan hingga lebih dari 60 kali ke Tiongkok.

Detail parade militer tersebut juga tercatat dalam kitab klasik negara Asia Tengah. Dalam catatan harian wakil utusan Timurid dituliskan, "Saya harus mengakui, wafatnya Kaisar (Tamer) saat dalam perjalanan untuk menaklukkan Timur adalah suatu keberuntungan, hal ini menyebabkan nama baik Beliau tetap terjaga."

Sementara "efek berantai" lainnya yang timbul adalah sekembalinya para utusan ke negara masing-masing setelah menyaksikan parade militer itu, Mesir segera mencabut larangan kapal dagang Timur untuk masuk ke wilayah Laut Merah, dan ekspedisi Zheng He yang terakhir akhirnya berhasil mencapai pesisir Laut Merah, hal ini tidak saja berhasil membangun hubungan dengan negara-negara di wilayah Laut Merah, tetapi juga mewujudkan cita-citanya sebagai seorang muslim, yakni naik haji ke Mekkah. [Li Wenhui / Surabaya] Sumber: Epochtimes

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA