IPTEK | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Jumat, 02 November 2012

MENGUPAS AKSARA TIONGHOA: AKSARA 王 (WANG)

Bentuk aksara sederhana 王 (Wáng), yang bermakna raja, telah sedikit mengalami perubahan di sepanjang abad. Terdiri dari angka tiga (三, Saān) yang dihubungkan oleh sebuah garis vertikal, ini mewakili sesuatu yang menghubungkan Trinitas Agung, 天 (Tiaān, surga), 地 (Dì, bumi) dan 人 (Rén, manusia).

Para ahli mengetahui bahwa ini adalah simbol asli, karena Dong Zhongshu (179 - 104 SM), menteri utama pada zaman Dinasti Han Barat (206 SM - 8 M), yang ikut bertanggung jawab dalam menetapkan Konfusianime sebagai kepercayaan negara, menyatakan dalam risalatnya Interactions between Heaven and Mankind (Tiān Rén Gǎn Yì), "Yang ditemukan dari abad kuno bahwa tulisan yang terdiri tiga baris dan dihubungkan sebuah garis vertikal di tengahnya, disebut aksara 'raja'. Tiga baris itu adalah Surga, Bumi dan manusia, dan yang ketiganya dihubungkan oleh sebuah prinsip."

Sebelum abad ke-3 SM, Tiongkok terbagi-bagi menjadi sejumlah negara kecil yang diatur oleh raja. Raja-raja dari Dinasti Shang, termasuk dinasti tertua di Tiongkok, merupakan seorang yang berkebijakan tinggi, yang setiap tindakannya selalu didahului dengan ramalan dan pengorbanan, terutama ditujukan kepada para leluhur Shang, yang dianggap sebagai dewa yang agung, yang dapat menjadi penghubung Dewa Tinggi Di, atau Shang Di, dengan mengatas namakan manusia.

Ini adalah ritual ramalan yang menghasilkan sejumlah besar "ramalan (yang terukir di atas) tulang", ditulis dengan aksara Tionghoa paling awal yang masih ada.

Tiongkok akhirnya bersatu di bawah Kaisar Pertama, Qin Shi Huang, yang pemerintahannya dimulai pada 221 SM. Inilah peran baru "kaisar", yang mirip dengan sebutan "Raja Agung", dan dalam aksara Tionghoa yang berarti kaisar (皇, Huáng), pada awalnya terdiri dari radikal untuk raja, dan bahwa untuk "permulaan".

Penguasa Tiongkok dipandang sebagai pengatur umat manusia dengan mengatas namakan Surga, yang mengendalikan semua fenomena duniawi dan surgawi. Bencana alam, yang oleh karenanya, ditafsirkan sebagai penghakiman Surga pada penguasa.

Di masa lalu, banjir, gempa bumi atau kekeringan mungkin telah dipandang sebagai bentaran perubahan dinasti. Fakta bahwa gempa bumi mengerikan di Tangshan, Tiongkok, yang terjadi pada 1976, terjadi pada tahun yang sama dengan kematian tiga pemimpin komunis dipandang khalayak luas sebagai lebih dari sekadar kebetulan. [Teo Ai Ping / Jakarta] Sumber: Epochtimes

PESAN DARI ADMIN

Mari kita dukung kiriman artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan ke dalam halaman facebook, twitter & googleplus Anda, serta pastikan Anda juga bisa mengirim artikel berita kegiatan / kejadian tentang Tionghoa di kota tempat tinggal Anda atau artikel bermanfaat lainnya ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA