IPTEK | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Kamis, 09 Februari 2012

SEJARAH PERANG TIONGKOK: MO YE

Mo Ye terletak di Kabupaten Nanqi, Propinsi Henan kini, adalah lokasi ajang sebuah perang besar tatkala Raja Zhou Wu dari Kerajaan Zhou  memusnahkan Raja Zhou dari Dinasti Shang.

Klan marga Zhou bertempat tinggal di daerah cekungan Jing Wei Propinsi Shanxi sekarang,  di bawah pengembangan Raja leluhur agung Dan Fu dan Ji Li, secara lambat laun kekuasaan mereka bertambah besar dan ekspansi ke empat penjuru.

Setelah Ji Li mangkat, putranya yang bernama Ji Chang memimpin klan marga Zhou, kekuasaan negara menjadi semakin kokoh. Ji Chang inilah yang dikemudian hari disebut Raja Zhou Wen.

Raja Zhou Wen sewaktu memerintah selain berkoalisi dengan berbagai suku klan marga Xia, ia juga memberi jabatan penting kepada Tai Gong Wang (Jiang Tai Gong). Ia selanjutnya memperluas persekutuannya dengan dua klan lain yakni marga Ji dan marga Jiang, melalui peningkatan pelatihan kemiliteran ia mengonsolidasi pasukannya, seluruh suku-suku mengaku takluk dan banyak bergabung dengannya.
Pada saat Raja Zhou Wen mendekati masa akhir jabatannya, kekuasaan klan Zhou sudah mengendalikan 2/3 wilayah geografis dari seluruh Tiongkok (saat itu).

Sesudah raja Zhou Wen mangkat, sang putra yang bernama Ji Fa atau yang terkenal dengan sebutan Raja Zhou Wu melanjutkan tahtanya. Kala itu pengaruh pemerintahan raja Dinasti Shang berada pada titik nadir, oleh karena ia sangat lalim dan kejam. Pejabat penting klan yakni Bi Gan dibunuh, yang lainnya seperti Qi Zi dikurung dan Wei Zi melarikan diri, maka kerajaannya terancam berantakan, juga karena dijauhi kaum arif bijaksana.

Maka itu Raja Zhou Wu memperketat persiapan memusnahkan Kerajaan Shang dan menanti peluang emas dalam menggerakkan pasukannya.

Data sejarah mencatat, raja Dinasti Shang Zhou dilukiskan sebagai: "Pendebat ulung dan bertindak cepat, kemampuan visual dan pendengarannya tajam, kekuatan fisiknya luar biasa bahkan dengan tangan kosong ia dapat membunuh hewan liar". Juga disebutkan bahwa "kecerdasannya cukup piawai untuk menolak nasehat, perkataannya cukup piawai untuk menutupi kekurangan diri sendiri".

Dari sini terlihat Raja Shang Zhou termasuk berkemampuan ganda lengkap dalam bidang kemiliteran dan intelektualitas. Sayangnya ia congkak dan tak terkendali, ditambah lagi dengan memanjakan selir yang terkenal akan kecantikannya yakni: Da Ji, sehingga semakin sewenang-wenang dan kerap bertindak asusila, membangun kolam arak dan hutan daging untuk melalui harinya dengan berfoya-foya, memberlakukan hukuman sadis, membantai orang bijak, sehingga membuat emosi rakyat mendidih. 

Di saat itu, Raja Zhou Wu pemimpin klan marga Zhou menguasai wilayah perairan sungai Wei, di bawah komando Jiang Tai Gong dan ditunjang oleh Zhou Gong Dan, kekuatan negaranya dalam posisi puncak, akhirnya memutuskan melakukan penyerbuan terhadap Dinasti Shang.

Pada 1027 SM (atau data lain mengacu tahun 1046 SM), Raja Ji Fa dari Zhou bersamaan Raja Zhou Dinasti Shang mengirim pasukan besar mengekspedisi wilayah yang jauh di timur yakni Dong Yi (suku bangsa di sebelah timur, antara lain Korea), ia melaju menyerbu Shang.

Pasukan Zhou setibanya di Meng Jin, bergabung dengan para pasukan suku anti Shang yakni: Yong, Lu, Peng, Pu, Shu, Jiang, Wei, Mao.

Kemudian, pasukan Zhou menuju ke timur dengan titik awal dari Meng Jin, di Kota Sishui, Rong Yang Propinsi Henan mereka menyeberangi Huang He (Sungai Kuning) membanjiri Tiong Goan (daerah pusat kebudayaan dan geografis Tiongkok di Tiongkok tengah) memasuki Tiong Goan/Zhong Yuan, sampai ke Bai Quan (Kabupaten Nan Hui - Propinsi Henan kini) terus bergerak ke timur, tiba di Mo Ye, luar Kota Chao Ge, ibu kota Shang (kini wilayah antara selatan Qi Xian dan utara sungai Wei Propinsi Henan). 

Raja Shang mendengar penyerbuan pasukan Zhou, segera meminta bantuan beberapa adipati terdekat. Oleh karena pemberontakan di Dong Yi mengikat pasukan utama Dinasti Shang, ia cepat-cepat memobilisasi massal para budak untuk dikirim ke medan laga, dan membentuk pasukan yang berkekuatan 100.000 orang.

Meski di depan mata pasukan Zhou sudah datang menyerbu dan situasi bertambah gawat saja, namun Raja Shang Zhou telah terbiasa berfoya-foya, bahkan pada malam sebelum perang masih saja bermabuk-mabukan dengan para serdadunya bagaikan pasukan yang sudah menang perang, sampai-sampai dari jenderal hingga prajurit pada mabuk berat.  
Pada saat perang penentuan berlangsung, pasukan Zhou menyerbu dengan kekuatan 300 kereta perang, 3.000 pasukan profesional dan 45.000 prajurit, banjir darah di medan pertempuran, situasinya sangat mengerikan.

Kekuatan pasukan Dinasti Shang terkurangi oleh pengaruh alkohol, sehingga pada akhirnya mereka dimusnahkan seluruhnya. Raja Zhou melihat kejayaannya telah lewat, dengan bergegas lari balik ke Chao Ge (ibu kota Dinasti Shang), menaiki panggung menjangan, "Dengan berselimutkan jubahnya yang penuh dengan permata, ia membakar dirinya sendiri hingga tewas".

Raja Wu di bawah dukungan berbagai pihak mendirikan dinasti Zhou, dan menyebut dirinya sendiri sebagai Putera Langit.  

Perang Mo Ye di dalam sejarah perang Tiongkok memiliki makna besar yakni:

1. Perang yang dilakukan pasukan yang lebih sedikit jumlahnya mengalahkan yang lebih banyak. Pasukan Shang meski berjumlah banyak, tetapi dibentuk secara terburu-buru dan tentu semangat tempurnya rendah.

Lain halnya dengan pasukan Zhou yang merupakan tentara pilihan, dengan semangat tempur tinggi, maka itu bisa mengalahkan musuh dengan jumlah yang lebih banyak meski jumlah pasukan sendiri lebih sedikit..  

2. Kali pertama mempergunakan kereta perang dalam skala besar, persis seperti di buku catatan kemiliteran Jiang Tai Gong sendiri yang berbunyi:

"Setiap kali menggunakan pasukan, harus memiliki kereta perang dan pasukan kavaleri, bergerak menerjang gelanggang untuk memilih sasaran", dampaknya meluas, sejak saat itu para adipati di Tionggoan pada zaman Chun Qiu Zhan Guo (abad 11-256 SM) semuanya tak berani memandang enteng lagi penggunaan kereta kuda. [Renata Koh / Jakarta]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA