IPTEK | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Senin, 26 Desember 2011

PERUBAHAN IKLIM KURAS UANG ANDA

Apa kesamaan dari benda-benda ini: mobil, komputer, hamburger, coklat, kopi, selai kacang, anggur dan kemeja katun? Mereka semuanya mungkin menjadi mahal dalam beberapa bulan mendatang karena satu alasan yang sama: perubahan iklim.

Globalisasi telah memberikan begitu banyak kemudahan, seperti celana jins murah dan buah impor berlimpah. Namun belakangan ini, perekonomian global dihantam oleh perubahan cuaca, seperti cuaca ekstrim yang menaikkan harga dan menurunkan ketersediaan impor dan barang-barang domestik.

Sebagai contoh, banjir di Thailand telah menenggelamkan ribuan pabrik bulan lalu. Beberapa diantaranya dibanjiri air kotor setinggi leher dan hanya bisa dijangkau dengan jet ski atau perahu. Meskipun nampaknya hal ini tidak berpengaruh pada AS, namun banyak produsen raksasa seperti Unilever, Johnson & Johnson, Toyota dan Honda semuanya telah mendirikan pabriknya di sana. Begitu juga dengan manufaktur komputer terbesar di dunia.

Akibat seperti yang diduga, terjadi lonjakan harga sebesar 10 persen untuk hard drive komputer di bulan-bulan berikutnya, tulis The New York Times. Kurangnya pasokan suku cadang dapat menyebabkan kenaikan harga laptop dan komputer PC.

Demikian halnya dengan industri otomotif yang suku cadangnya bersumber dari Thailand. Banjir di Bangkok memaksa Toyota untuk memperlambat produksi pabrik perakitannya di Amerika Utara, Indonesia, Jepang dan tempat lainnya. Hal ini berarti waktu tunggu menjadi lebih lama bagi beberapa tipe dan menaikkan harga bandrol.

Semua ini terjadi seiring dengan pengaruh globalisasi – yakni, konversi besar-besaran dataran rawan banjir Asia dan persawahan bagi industrialisasi - yang bertabrakan dengan perubahan iklim dan cuaca ekstrim.

Komoditas di seluruh dunia ikut melonjak. Harga selai kacang misalnya, melonjak musim gugur ini setelah gelombang panas membakar hangus kacang tanah di AS, mendorong harga borongan dari $ 450 menjadi $ 1,150 per ton, yang mengarah pada kenaikan harga tiga puluh persen untuk merek Smucker's Jiff dan Skippy dari Unilever.

Begitu pula dengan daging sapi AS, hancur akibat kekeringan di Texas. Sehingga memaksa peternak untuk menyembelih ternaknya yang kelaparan daripada harus menanggung kerugian lebih besar. Sementara itu, tindakan ini telah menciptakan surplus pasokan daging sapi dengan harga yang lebih rendah. Peternak menderita kerugian jangka panjang untuk meraih harga ternak yang lebih tinggi jika dijadikan daging hamburger pada tahun depan, atau untuk t-bone dan daging panggang pada 2013, kata Media Publik Amerika, Marketplace.

Banyak tanaman pertanian dunia, hanya dapat tumbuh baik dalam batas-batas suhu, curah hujan, dan ketinggian tertentu. Misalnya, penghasil cokelat dunia yang separuhnya berasal dari Negara Ghana dan Pantai Gading, Afrika. Tanaman kakao disana hanya dapat tumbuh baik pada suhu 22,2 derajat Celcius, dan ketinggian 99-246 meter dpl. Cuaca panas akan menyebabkan tanaman kakao harus ditanam pada tempat yang lebih tinggi lagi, yakni di atas 450 meter pada tahun 2050. Hal ini semakin menambah biaya pengeluaran bagi industri dan pecinta cokelat seiring dengan peningkatan harga tanaman pertanian lainnya.

Ritel kopi raksasa, Starbucks, mengatakan kepada Kongres pada Oktober ini, bahwa produksi kopi sudah dipengaruhi oleh perubahan iklim di Amerika Tengah, dengan jauh lebih buruk dari yang diharapkan. Seperti halnya kopi, minuman bourbon (wiski khas AS) juga sensitif terhadap kenaikan temperatur dan curah hujan yang tidak menentu.

Seperti kapas. Cuaca buruk melanda seluruh India, Australia, dan Pakistan pada 2010 lalu, telah membuat harga kapas – begitu juga T-shirt dan jins – jadi melambung. Kekeringan parah di Texas tahun ini, juga sama. Pada 2011, cuaca tak menentu telah mendatangkan malapetaka bagi perkebunan anggur AS. Jangka waktu ramalan cuaca untuk membantu pertanian semakin menurun, dan harga global untuk bahan-bahan pokok termasuk kedelai, jagung gandum, dan beras mencapai rekor.

Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk volatilitas masa depan? Salah satu cara adalah mencocokkan model perubahan iklim komputer dengan pemandangan rentan dan produk konsumen (seperti dataran rawan banjir industri utama atau tumbuhan kopi dipegunungan), dan melakukan analisis risiko rinci untuk mendapatkan keuntungan bagi bisnis, petani, bangsa, dan konsumen.

Seandainya, para pembuat komputer di dunia telah meramalkan risiko iklim yang ditimbulkan oleh pemusatan pabrik-pabrik di dataran rawan banjir Bangkok, mereka bisa menyebarkan  tanaman pada wilayah itu. Analisis semacam itu dapat membantu kita merencanakan pabrik dan lahan pertanian baru, dan lebih baik melindungi yang sudah ada. Tetapi kita tidak dapat mendanai survei global ini jika kebijakan AS menyangkal adanya masalah.

Penolakan perubahan Iklim bahkan lebih mengancam kehidupan beruang kutub. Ini juga membahayakan bagi secangkir Starbucks, bourbon, ataupun roti kita di kemudian hari. Kita bisa saja dapat menemui ancaman tersebut, namun diperlukan tindakan pencegahan sebelumnya. Kelambanan tindakan akan membuat ketidaksiapan kalangan bisnis dan konsumen.

"Perubahan iklim tidak hanya membawa berita buruk tetapi juga banyak peluang potensial," catat Pusat Pertanian Tropis Internasional. "Para pemenangnya, siap untuk perubahan dan tahu bagaimana beradaptasi." [Suzanna Laow / Jakarta / Tionghoanews]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: KISAH

ARTIKEL: BERITA